Belajar dari Timor Leste .
Sepak bola kini jadi komoditas politik, komoditas industri dan rakyat yang ingin disuguhi tontonan determinasi dan
keindahan sepakbola, terus-terusan dikhianati. Semoga sepakbola Indonesia menjadi lebih baik tanpa harus menunggu datangnya Mr. Kim!
.
OPINI | 15 August 2012 | 15:43 Mr. Kim & Barefoot Dream, Belajar dari Timor Leste
Pringadi Abdi Surya
Masih
teringat jelas tulisan Pak Zen tentang Kanga Cup ketika tim tak diunggulkan, Timor Leste justru berhasil mengempaskan Indonesia yang diwakili ISA 4 gol tanpa balas.
Terlepas dari sebab dikartumerahnya Anggie Haryesa, saya menemukan sebab lain di Haari TV semalam. Sebab itu bernama Mr. Kim dan film berjudul Barefoot Dream.
Timor Leste, negara pertama yang merdeka di abad 21 menjadi tujuan perjalanan Kim-Won-Kang yang diperankan Park Hie Soon yang pernah bermain dengan Shin Min Ah dan Ha
Ji Won (Bagi yang suka Korea pasti tahu dua nama ini). Kim, mantan pemain profesional di Korea, berpikir akan bisa mencari uang di negara itu. Suatu hari, Kim melihat
anak-anak bermain bola di lapangan tanpa pakai sepatu. Terbersit ide di benaknya, buat mendirikan toko olahraga. Ia kemudian menjual sepatu bola secara kredit, 1 dolar
per hari. Belum seminggu kredit macet. Di negara yang baru merdeka, keuangan menjadi sangat sulit. Perang saudara yang berkecamuk membuat ancaman ada di mana-mana.
Bahkan anak-anak kena dampaknya. Motavio dan Ramos, terlibat permusuhan karena permasalahan keturunan.
Cerita mulai berjalan menarik ketika sang kakak Ramos melarang Kim menjual sepatunya kepada anak-anak. Ia merasa itu sebagai pemerasan. Ia menyuruh Kim pergi dan
membiarkan anak-anak kembali bermain bola tanpa sepatu. Tapi Kim bersikukuh, bermain tanpa equipment yang cukup akan merusak fisik anak-anak. Itu tidak akan membuat
permainan mereka menjadi bagus, tegasnya. Kakak Ramos tertawa, menantang bukti ke Kim bahwa dia bisa membuat anak-anak itu bermain bagus. Kim menjawab tantangan itu
dengan menantang pertandingan dengan taruhan 1 ekor babi yang harganya 400 dolar!
Sayangnya, tim Kim kalah. Tapi ia tidak menyerah. Dengan perjuangannya, ia kembali menyusun kekuatan dengan memanggil Ramos. Skill Ramos dianggap pantas oleh Kim untuk
diperkenalkan kepada dunia. Hanya saja sang kakak menentangnya. Dia yang akan membawanya ke Indonesia, bukan Kim.
Tapi, Kim berjanji akan membawa tim itu ke Hiroshima, Rivelino Cup. Tua yang berbadan kecil ingin ikutan juga. Tapi Kim berpikir badan sekecil itu tidak bisa bersaing
di dunia. Itu akan menyakitkan bila ia dewasa nanti. Tapi Tua terus ingin meyakinkan Kim bahwa dia punya tekad. Akhirnya Kim mengizinkannya dengan syarat ia harus
berlatih dua kali lebih keras dibanding yang lain.
Singkat cerita, di tengah konflik perang saudara, rumor penipuan yang menimpa Kim, dan godaan Kim untuk kembali ke Korea melatih klub muda di sana, nekadnya Ramos
mencuri stereo untuk pergi ke Indonesia, tim Timor Leste akhirnya bisa berangkat ke Hiroshima karena teman Kim, sang Duta Besar mengirimkan cerita perjuangan ke Korea
dan mereka mendapatkan sponsor untuk pergi ke Hiroshima.
Pertandingan melawan tim muda Jepang adalah pertandingan internasional pertama Timor Leste yang diwakili anak-anak. Babak pertama mereka tertinggal 2-0. Cuaca yang
dingin dan skill pemain Jepang yang aduhai membuat mental mereka down. Motavio terkena cedera di kepala, berdarah namun memaksa main di babak kedua. Kim mengambil
resiko itu, menyatukan Motavio dan Ramos.
Pertandingan babak kedua disiarkan lewat Radio di Timor Leste, bahkan Xanana Gusmao ikut bermain di film ini lho. Ketegangan seolah berhenti di suatu negara untuk
mendukung pemainnya. Ramos akhirnya mau mengumpan ke Motavio dan itu gol pertama. Gol kedua datang dari Ramos sebagai penyeimbang kedudukan. Di menit akhir, penalti
Ramos gagal dan menghasilkan tendangan pojok. Tua yang kecil kalah bodi dan terjatuh kemudian ditinggalkan pengawalnya. Beruntungnya, bola liar mengarah ke Tua dan
langsung disambar GOL, kemenangan 3-2 untuk Timor Leste.
Faktanya, Rivelino Cup 2004 adalah kompetisi internasional pertama Timor Leste dan mereka memenangkannya dengan 6 kemenangan ajaib. Film ini terinspirasi oleh kisah
itu. Dan saya rekomendasikan film ini sangat layak tonton. Iri rasanya kenapa Indonesia tak punya film sekualitas ini. Bahkan rasanya Laskar Pelangi saja lewat.
Delapan tahun setelah Rivelino Cup, tim muda Indonesia yang terkenal perkasa di dunia kalah oleh mereka. Dan dalam laporan terbaru, pembinaan sepakbola di Timor Leste
berjalan begitu pesat, lebih pesat dari politiknya. Becermin dari itu, barangkali para petinggi persepakbolaan Indonesia sudah lupa caranya bermain bola tanpa sepatu.
Main di lapangan berlumpur. Tertawa riang bersama. Menikmati sepakbola.
Sepak bola kini jadi komoditas politik, komoditas industri dan rakyat yang ingin disuguhi tontonan determinasi dan keindahan sepakbola, terus-terusan dikhianati.
Semoga sepakbola Indonesia menjadi lebih baik tanpa harus menunggu datangnya Mr. Kim!